Ustadzfaqih • Mei 12 2025 • 86 Dilihat

Nasihat Hikmah bagi Para Penguasa
Bersama Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Kitab Nashoihul ‘Ibad
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
“Kepemimpinan adalah amanah. Dan di Hari Kiamat kelak, kepemimpinan adalah penyesalan—kecuali bagi mereka yang menunaikan hak-haknya dengan benar.”
(HR. Muslim)
Mukadimah: Suara Ulama bagi Para Pemegang Kekuasaan
Kekuasaan adalah ujian terbesar. Ia bisa menjadi ladang pahala yang luas, namun juga bisa menjadi jurang kehancuran yang dalam. Dalam Kitab Nashoihul ‘Ibad, Syaikh Nawawi al-Bantani, seorang ulama besar dari Nusantara yang harum di Makkah, memberikan nasihat-nasihat agung bagi para pemimpin.
Kitab ini bukan sekadar kumpulan nasihat moral, tetapi merupakan panduan ruhani dan etika pemerintahan bagi siapa saja yang diberi tanggung jawab kepemimpinan—baik di level keluarga, masyarakat, maupun negara.
Syaikh Nawawi mengutip dari berbagai hadits dan hikmah ulama terdahulu bahwa kekuasaan adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Dalam Nashoihul ‘Ibad, beliau menulis:
“Seorang pemimpin adalah gembala, dan setiap gembala akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”
Pemimpin bukan pemilik kekuasaan, melainkan penjaga dan pengurus amanah. Maka tak pantas bagi seorang penguasa untuk memanfaatkan jabatannya demi memperkaya diri, memperkuat kelompok, atau membungkam kebenaran.
Salah satu nasihat yang paling menggugah dari Nashoihul ‘Ibad adalah peringatan keras terhadap kezaliman kekuasaan. Syaikh Nawawi menulis:
“Takutlah kalian kepada doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.”
Pemimpin yang adil akan dinaungi Allah di hari kiamat. Namun pemimpin yang zalim akan dilaknat oleh langit dan bumi. Maka, wahai para penguasa, jangan remehkan air mata rakyat yang terpinggirkan, suara orang miskin yang tak terdengar, atau keluhan rakyat yang ditindas sistem.
Doa mereka adalah anak panah yang melesat tepat ke Arasy.
Syaikh Nawawi juga menjelaskan bahwa keberhasilan duniawi seorang pemimpin yang zalim bukanlah pertanda cinta Allah, melainkan bisa jadi bentuk istidraj—yaitu pemberian bertubi-tubi dari Allah yang justru membawa kepada kehancuran.
“Jangan kau sangka Allah ridha hanya karena dirimu dilimpahi kekuasaan dan kenikmatan. Bisa jadi itu adalah jalan pelan menuju kehinaan yang abadi.”
Oleh karena itu, seorang pemimpin harus selalu introspeksi diri, bersyukur atas nikmat, dan beristighfar dari kezaliman sekecil apa pun.
Syaikh Nawawi memperingatkan bahwa pemimpin yang baik adalah yang dekat kepada ulama, bukan kepada orang-orang yang memuji dan menjilat. Ulama adalah pewaris para nabi. Mereka memberi nasihat tanpa pamrih dan menyampaikan kebenaran walau pahit.
“Bila seorang penguasa mendekati ulama, maka dia akan mendapat bimbingan. Tetapi bila penguasa dikelilingi para penjilat, maka kerusakan akan menguasainya.”
Salah satu tanda bahwa seorang pemimpin diberkahi adalah:
Syaikh Nawawi menyebutkan bahwa pemimpin yang mencintai keadilan akan dicintai Allah dan rakyatnya, sedangkan pemimpin yang rakus terhadap dunia akan dibenci oleh keduanya.
Dalam Nashoihul ‘Ibad, Syaikh Nawawi menyentil gaya hidup mewah dan kemewahan para pemegang kuasa yang justru bertolak belakang dengan gaya hidup Nabi Muhammad ﷺ dan para khulafaur rasyidin.
“Pemimpin sejati adalah yang tidur dalam kesederhanaan dan bangun untuk menunaikan amanah.”
Bukan yang hidup dalam istana megah sementara rakyatnya antre beras dan air bersih. Maka, jadilah pemimpin yang takut jika dipuji, dan menangis ketika merasa lalai.
Penutup: Jalan Keselamatan bagi Para Pemimpin
Syaikh Nawawi al-Bantani, melalui Nashoihul ‘Ibad, telah menanamkan prinsip-prinsip keemasan dalam kepemimpinan Islam: bahwa jabatan bukan kehormatan, melainkan beban yang berat.
“Siapa yang diangkat sebagai pemimpin atas urusan umat, lalu ia tidak bersungguh-sungguh menasihati mereka, maka ia akan diharamkan masuk surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga para pemimpin kita membaca, merenung, dan mengambil pelajaran dari nasihat agung ini. Dan bagi kita semua—karena setiap kita adalah pemimpin atas diri, keluarga, dan masyarakat—nasihat ini adalah cermin dan lentera jiwa.
Doa Untuk Para Pemimpin
اللَّهُمَّ اجْعَلْ وُلاةَ أُمُورِنَا مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَكَ وَيَتَّقُونَكَ وَيَسْعَوْنَ فِي خِدْمَةِ عِبَادِكَ، لاَ فِي مَصَالِحِ أَنْفُسِهِمْ.
“Ya Allah, jadikanlah para pemimpin kami orang-orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan bersungguh-sungguh dalam melayani hamba-hamba-Mu, bukan untuk kepentingan diri mereka sendiri.”
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.