Ustadzfaqih • Mei 01 2025 • 82 Dilihat

Tips Menulis Novel yang Menginspirasi dan Mencerahkan
Berikut adalah Tips Menulis Novel yang Menginspirasi dan Mencerahkan, khususnya bagi penulis yang ingin menyentuh hati pembaca dan meninggalkan jejak spiritual atau nilai luhur dalam karya mereka:
“Niat adalah ruh dari setiap amal.”
Sebelum menulis, tanyakan pada dirimu: “Apa yang ingin aku sampaikan kepada pembaca?” Jika niatmu adalah memberi manfaat, membangun kesadaran, atau menyebarkan nilai-nilai kebaikan, maka tulisanmu akan mengandung ruh yang hidup. Pembaca bisa merasakannya, walau tanpa engkau menyadarinya.
Tokoh utama dalam novel inspiratif biasanya mengalami perjalanan batin (inner journey)—dari krisis menuju pemahaman, dari keraguan menuju keyakinan, dari keterpurukan menuju cahaya.
Buatlah karakter yang:
Tokoh seperti ini akan menggugah empati pembaca dan memantulkan cermin bagi hati mereka sendiri.
Novel yang mencerahkan tidak berkhotbah secara langsung, tapi membiarkan pembaca menemukan hikmah lewat:
Kekuatan cerita terletak pada simbol, konflik, dan resolusi yang menyentuh, bukan hanya kutipan-kutipan religius.
Buatlah tokoh merenung setelah sebuah kejadian, kehilangan, atau pertemuan. Refleksi dalam bentuk monolog, doa, atau percakapan batin membuat cerita terasa lebih dalam.
Contoh:
“Mungkin selama ini aku terlalu sibuk mengejar dunia, sampai lupa bagaimana rasanya tenang hanya karena dzikir.”
Kalimat-kalimat seperti ini menjadi jembatan antara pembaca dan kejujuran batin mereka sendiri.
Kisah nyata tentang perjuangan, keteguhan iman, dan ketulusan bisa menjadi sumber inspirasi. Anda juga bisa menyisipkan nilai dari:
Namun tetap bungkus dalam cerita, bukan dalam format khotbah.
Konflik luar (kemiskinan, penolakan, penyakit) akan lebih berdampak jika diikuti oleh konflik batin (rasa takut, kecewa pada takdir, pergulatan iman). Di sinilah momen penyadaran bisa tumbuh secara alami.
Teknik menulis penting, tapi ketulusan lebih penting dalam novel yang menginspirasi. Ketika kamu menulis dari hati yang sedang merasakan Allah, merindukan kebaikan, atau ingin membawa orang lain kepada cahaya—energi itu akan mengalir ke tulisanmu.
Akhiran yang mencerahkan adalah yang:
Penutup: Jadikan Tulisanmu Ladang Amal
Menulis novel yang mencerahkan adalah ibadah jika diniatkan sebagai jalan dakwah dan perbaikan umat. Novelmu bisa menjadi penyuluh hati yang gelap, pelipur lara jiwa yang terluka, dan penyambung orang kepada Tuhannya.
“Dan barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pelakunya.”
(HR. Muslim)
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Bagaimana kita bisa menulis artikel yang inspiratif, mencerahkan bahkan mampu memberikan semangat
Menulis artikel yang inspiratif, mencerahkan, dan membangkitkan semangat bukan hanya soal keindahan bahasa, tetapi bagaimana tulisan itu menyentuh hati pembaca, membangkitkan kesadaran, dan memberi harapan. Berikut ini beberapa kunci penting yang bisa Anda gunakan:
Inspirasi lahir dari ketulusan jiwa. Artikel yang mencerahkan biasanya ditulis oleh seseorang yang:
Tips: Sebelum menulis, bertanyalah dalam hati:
“Apa yang membuatku ingin menulis ini?”
Jika jawabannya adalah “aku ingin orang lain merasa lebih baik, lebih dekat dengan Allah, atau lebih kuat menghadapi ujian,” maka itu awal yang bagus.
Gunakan pembukaan yang membumi dan jujur: misalnya kegelisahan, krisis yang umum, atau pertanyaan eksistensial seperti:
“Pernahkah kamu merasa bahwa hidup ini berjalan, tapi jiwamu tertinggal di belakang?”
Pembuka seperti ini akan langsung menghubungkan hati pembaca dengan isi artikel.
Artikel inspiratif harus:
Misalnya:
Nilai spiritual dari Al-Qur’an, hadis Nabi, dan kisah para salaf bisa memperkuat pesan. Tapi, jangan gunakan secara kering. Tautkan ayat/hadis itu ke konteks yang hidup.
Contoh:
“Allah menyatakan dalam QS. Asy-Syu’ara: 88-89, bahwa pada Hari Kiamat tak ada yang menyelamatkan kecuali hati yang bersih (qalbun salīm). Inilah saatnya kita menyembuhkan luka batin dan mulai berjalan menuju-Nya, perlahan tapi pasti.”
Artikel yang membangkitkan semangat harus menyuntikkan aksi dan motivasi. Setelah konten reflektif, beri ajakan praktis, seperti:
Tulisan yang menggerakkan pembaca, walau hanya satu langkah, jauh lebih kuat daripada tulisan yang hanya merenungi masalah.
Akhiran yang menyentuh biasanya:
Contoh:
“Jika kamu sedang diuji, ingatlah bahwa Allah tidak pernah meninggalkanmu. Setiap luka akan sembuh, dan setiap tangis akan berganti dengan senyum yang lebih dalam. Semoga hatimu disinari cahaya iman dan langkahmu selalu dalam lindungan-Nya.”
Contoh Struktur Singkat Artikel Inspiratif
Persiapan apa saja yang harus kita lakukan sebelum Menulis sebuah buku.
Menulis sebuah buku adalah perjalanan panjang dan bermakna—bukan hanya soal menulis, tetapi tentang mempersiapkan diri secara mental, intelektual, dan spiritual. Berikut adalah beberapa persiapan penting yang harus dilakukan sebelum menulis buku, agar prosesnya lancar, terarah, dan bermakna:
“Untuk siapa buku ini ditulis dan apa yang ingin saya capai melalui buku ini?”
Tanyakan hal ini kepada dirimu sendiri. Buku yang ditulis dengan niat yang jelas dan tulus akan lebih kuat daya pengaruhnya. Beberapa tujuan umum:
Contoh niat tulus: Saya ingin buku ini menjadi cahaya kecil yang membantu orang lain lebih dekat dengan Allah.
Buku akan lebih fokus dan kuat jika memiliki:
Jangan menulis “untuk semua orang”—lebih baik pilih sasaran khusus agar pesan lebih terarah.
Meskipun idemu lahir dari pengalaman pribadi atau refleksi ruhani, riset tetap penting agar tulisanmu bernilai, berbobot, dan terpercaya.
Riset bisa meliputi:
Kerangka ibarat peta perjalanan. Tanpa peta, penulis bisa tersesat dan kehilangan arah.
Struktur umum buku nonfiksi:
Menulis buku bukan pekerjaan satu malam. Dibutuhkan:
Buat jadwal pribadi: pagi untuk menulis, malam untuk menyunting, atau akhir pekan untuk menyusun ulang bab.
Apakah buku ini bernuansa:
Gaya tulisan akan menentukan cita rasa buku. Gaya reflektif, misalnya, cocok untuk buku ruhani dan inspirasi hidup.
Sebelum menulis, coba bayangkan wajah pembacamu. Apa yang mereka rasakan saat membaca bukumu? Bingung, butuh motivasi, ingin mengenal Allah, atau sedang merasa hampa?
Tulis seolah-olah kamu sedang berdialog dengan mereka—dengan hati, bukan hanya dengan pena.
Siapkan buku catatan atau folder digital berisi:
Catatan ini akan memperkaya naskahmu dan menjadi sumber energi saat kamu kehabisan kata.
Buku yang menginspirasi bukan hanya hasil keterampilan, tapi juga buah dari kedalaman ruhani.
Sebelum menulis, biasakan:
Penutup: Tulis dengan Cinta, Terbitkan dengan Doa
Jika semua persiapan sudah dilakukan, jangan tunggu sempurna untuk mulai menulis. Kesempurnaan akan datang dari proses yang jujur dan terus berjalan.
“Menulis buku bukan sekadar menyusun kata, tapi mewariskan cahaya.”
— (Nasrul Syarif)
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku GiziSpiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
✨LAUNCHING 54 JUDUL BUKU!✨ Bersama Dr. Nasrul Syarif, M.Si, kami membuktikan bahwa Literasi adal...
Mengapa Buku harus Ber-ISBN dan Bagaimana Persyaratannya. Persyaratan Buku untuk Mendapat ISBN ...
PROPOSAL PENAWARAN JASA PERCETAKAN & PENERBITAN BUKU BER-ISBN Penerbit Jenggala Pustaka Utama. K...
No comments yet.