Ustadzfaqih • Apr 30 2025 • 88 Dilihat

Rasulullah SAW: Sosok Penuh Keberkahan, Lentera Petunjuk Sepanjang Zaman.
Pembuka: Keberkahan yang Menyeluruh
Allah SWT berfirman:
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh makhluk, dari manusia hingga jin, dari gunung hingga hewan, merasakan rahmat dan berkah dari kehadiran Nabi SAW.
1. Cahaya Keberkahan dalam Misi Kenabian
Rasulullah SAW diutus pada zaman kegelapan—di mana akidah rusak, moral runtuh, dan manusia hidup tanpa arah. Namun, dalam kondisi seperti itulah cahaya beliau menyinari dunia. Dakwahnya memanggil jiwa-jiwa yang kosong untuk kembali kepada Allah. Dengan kesabaran yang tiada tara, beliau menyampaikan risalah tauhid, membimbing manusia dari penyembahan berhala menuju penyembahan kepada Rabb Yang Esa.
Keberkahan dakwah beliau tampak dari bagaimana umat yang awalnya hina dan terbelakang, berubah menjadi umat terbaik yang membawa keadilan, ilmu, dan akhlak mulia ke berbagai penjuru dunia.
2. Membangkitkan Ruh-ruh yang Tertidur
Rasulullah SAW tidak sekadar berbicara kepada telinga, tetapi mengetuk pintu hati. Beliau menghidupkan hati yang mati, membangkitkan ruh yang tenggelam dalam kelalaian. Dengan sentuhan wahyu dan kelembutan akhlaknya, manusia mulai sadar akan tujuan hidup: menyembah Allah, mengenal diri, dan meraih kebahagiaan abadi.
Bersama Rasulullah SAW, manusia tidak hanya menjadi pengikut, tapi juga menjadi pembela kebenaran. Ia membangkitkan rasa tanggung jawab dalam dada umat. Ia menanamkan visi ukhrawi di balik setiap amal duniawi.
3. Menanam Peradaban di Atas Fondasi Wahyu
Peradaban Islam yang dibangun Rasulullah SAW bukan berdiri di atas kekuatan ekonomi atau militer, melainkan di atas ilmu, iman, dan akhlak. Masjid dibangun bukan hanya untuk salat, tapi juga menjadi pusat ilmu dan pengabdian. Pasar diawasi bukan hanya demi untung rugi, tapi demi keadilan dan keberkahan. Masyarakat dibina bukan hanya sebagai warga negara, tapi sebagai hamba Allah yang beriman.
Keberkahan beliau hadir dalam struktur sosial, politik, dan pendidikan umat. Bahkan di tengah keterbatasan, beliau mencetak generasi yang menjadi mercusuar peradaban: Abu Bakar yang jujur, Umar yang adil, Utsman yang dermawan, Ali yang berilmu, dan para sahabat lainnya yang menjadi cermin cahaya kenabian.
4. Warisan Sunnah: Cahaya yang Terus Menyinari
Rasulullah SAW telah wafat, namun keberkahannya tak pernah sirna. Warisan terbesar beliau adalah sunnah—petunjuk hidup yang menyeluruh dan sempurna. Siapa pun yang mengikuti sunnah beliau akan merasakan keberkahan dalam hidupnya: dalam rumah tangga, pekerjaan, ibadah, bahkan dalam diam dan senyumnya.
Sunnah beliau adalah manifestasi dari hikmah ilahiyah. Dalam adab makan, beliau mengajarkan kesyukuran. Dalam akhlak terhadap sesama, beliau menebarkan cinta dan kasih. Dalam muamalah, beliau menegakkan kejujuran dan amanah.
5. Mengajak Umat Berlomba dalam Kebaikan
Rasulullah SAW tidak hanya membimbing, tetapi juga menginspirasi. Beliau tidak hanya mengajarkan, tetapi juga memberi teladan terbaik. Beliau mengajak umat untuk berlomba dalam kebaikan, bukan dalam harta atau dunia. Dalam segala aspek kehidupan, beliau menanamkan ruh fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan).
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…”
(QS. Al-Ahzab: 21)
6. Refleksi: Menjadi Pewaris Keberkahan
Sebagai umatnya, kita tidak cukup hanya mencintai beliau dengan lisan, tetapi harus mengikuti jejaknya dengan amal. Mencintai Rasulullah SAW berarti meneladani akhlaknya, memperjuangkan dakwahnya, dan menyebarkan keberkahan yang beliau bawa.
Kita adalah penyambung mata rantai dakwah beliau. Jika Rasulullah menyalakan cahaya, maka tugas kita adalah menjaga agar cahaya itu tetap menyala di tengah gelapnya zaman. Umat ini akan terus hidup selama cahaya sunnah menyinari kehidupannya.
Penutup: Lentera yang Tak Pernah Padam
Rasulullah SAW adalah lentera keberkahan yang tak pernah padam. Setiap umat yang menapaki jejaknya akan mendapatkan jalan menuju Allah SWT. Setiap insan yang mendekap sunnahnya akan menemukan kebahagiaan sejati. Dan setiap jiwa yang merindukannya, akan disatukan kelak bersamanya di surga.
Semoga kita termasuk dalam barisan umat yang mencintainya dengan sepenuh hati, mengikuti jalannya dengan sepenuh jiwa, dan mewarisi semangat dakwahnya dengan sepenuh pengabdian.
“Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Nabi-Mu Muhammad, yang menjadi cahaya bagi hati kami, penuntun bagi langkah kami, dan pemberi syafaat di hari yang tiada penolong selain Engkau.”
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.