Ustadzfaqih • Apr 29 2025 • 83 Dilihat

IKHLAS: Inti Perjalanan Ruhani Menuju Allah
Pendahuluan
Di antara sekian banyak akhlak yang diperintahkan dalam Islam, ikhlas menempati derajat yang tertinggi dan paling menentukan. Ia adalah rahasia di balik diterimanya amal, inti dari seluruh ibadah, dan jiwa dari setiap gerakan menuju Allah.
Tanpa ikhlas, amal sebesar apapun hanya akan menjadi debu yang berterbangan, tidak berharga di sisi Allah. Sebaliknya, dengan ikhlas, bahkan amal yang kecil akan menjadi besar di sisi-Nya.
Sayyid Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi dalam kitabnya Kifâyatul Atqiyâ’ wa Minhâjul Ashfiyâ’ menulis:
“Ketahuilah bahwa ikhlas adalah menyucikan amal dari selain Allah. Ia merupakan syarat diterimanya amal. Barang siapa beramal dengan mengharap selain Allah, maka amalnya tertolak dan sia-sia.”
Ikhlas, dengan demikian, adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat.
Definisi Hakiki Ikhlas
Secara bahasa, ikhlas berasal dari kata khalasha yang berarti “murni” atau “bersih dari campuran.”
Secara istilah menurut para ulama:
Dengan kata lain, ikhlas berarti beramal hanya karena Allah, bukan karena manusia, dunia, atau diri sendiri.
Tingkat-Tingkat Ikhlas
Ikhlas bukan satu tingkatan yang statis, melainkan bertingkat-tingkat, sesuai dengan kedalaman makrifat seseorang. Dalam Kifayatul Atqiya, tingkatan ikhlas antara lain:
Imam Al-Qusyairi dalam Risalah Qusyairiyah berkata:
“Ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hamba-Nya. Malaikat tidak mengetahuinya untuk mencatatnya, setan tidak mengetahuinya untuk merusaknya, dan hawa nafsu tidak mengetahuinya untuk memalingkannya.”
Tanda-tanda Ikhlas
Sayyid Abu Bakar Syatha mengajarkan, seseorang dapat mengukur keikhlasannya melalui tanda-tanda berikut:
Bahaya Riyaa’ dan Sum’ah
Dalam Kifayatul Atqiya’, Sayyid Abu Bakar Syatha memperingatkan tentang dua penyakit yang menghancurkan keikhlasan:
Keduanya adalah bentuk “syirik kecil,” sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya: “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Riyaa’.” (HR. Ahmad)
Riyaa’ membuat amal tidak hanya tidak diterima, tapi juga menjadi sebab turunnya murka Allah.
Cara Menumbuhkan dan Menjaga Ikhlas
Ikhlas adalah perkara berat. Bahkan Imam Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata:
“Aku tidak mengobati sesuatu yang lebih sulit daripada niatku. Ia terus berbolak-balik dalam diriku.”
Namun ikhlas bisa diusahakan dengan langkah-langkah berikut:
Ikhlas: Cahaya di Akhir Jalan
Seorang hamba yang ikhlas akan berjalan dalam kehidupan ini dengan ringan.
Ia tidak terikat pujian manusia, tidak tergantung pada hasil duniawi, dan tidak gelisah dengan cercaan.
Ia tahu bahwa yang penting bukan bagaimana manusia menilainya, tapi bagaimana Allah memandang hatinya.
Di dunia, ia akan mendapatkan ketenangan batin.
Di akhirat, ia akan mendapatkan kemuliaan yang tidak tergambarkan.
Allah berfirman:
“Sungguh, hanya untuk Allah agama yang bersih (ikhlas).” (QS. Az-Zumar: 3)
Dan di dalam hadits qudsi disebutkan:
“Aku adalah yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama sekutunya.” (HR. Muslim)
Penutup
Ikhlas adalah lautan tanpa tepi.
Ia adalah ruh bagi segala amal, dan cahaya bagi segala perjalanan ruhani.
Dalam dunia yang penuh pujian, ketenaran, dan pencitraan ini, ikhlas menjadi barang langka yang sangat mahal.
Namun, justru karena kelangkaannya, ia menjadi permata paling berharga di sisi Allah.
Maka marilah kita bermohon kepada Allah, dengan hati yang berserah:
“Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari segala sesuatu selain Engkau.
Jadikanlah semua amal kami murni karena-Mu, demi wajah-Mu Yang Mulia.
Dan janganlah Engkau biarkan kami terpedaya dengan dunia yang fana ini.”
آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
( Dr Nasrul Syarif M.Si Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.