Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Berkomitmen kepada Syariat : Kunci Bahagia Dunia dan Akhirat.

    Apr 27 202577 Dilihat

    Berkomitmen kepada Syariat: Kunci Bahagia Dunia dan Akhirat

     

    Dalam perjalanan panjang kehidupan ini, setiap kita sedang menuju satu tujuan: kebahagiaan sejati. Namun, betapa banyak yang tersesat di tengah jalan, tergelincir karena fatamorgana dunia yang menipu. Di tengah kerumitan zaman, Syeikh Abdul Qadir al-Jailani — seorang sulthanul auliya — memberikan petunjuk yang tak lekang oleh waktu:

    “Berkomitmen kepada ajaran syariat adalah syarat kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Maka jagalah dirimu untuk tidak melanggarnya, dan jauhilah orang-orang yang melanggarnya.”

    Syariat bukanlah beban. Ia adalah cahaya.
    Syariat membimbing hati yang gelisah menuju ketenangan. Ia membingkai hidup agar tetap dalam orbit kebenaran, menjauhkan kita dari kekosongan makna dan kehampaan jiwa.

    Di era ini, saat kebenaran sering diputarbalikkan, dan batasan halal-haram dipermainkan, komitmen kepada syariat menjadi bukti keberanian sejati. Bukan sekadar ritual lahiriah, tapi sebuah pernyataan: bahwa kita memilih Allah di atas segalanya.

    Menjaga Diri dari Pelanggaran

    Setiap pelanggaran syariat, sekecil apa pun, adalah retakan di dinding keimanan kita. Retakan yang, jika dibiarkan, bisa merobohkan seluruh bangunan hati. Maka Syeikh Abdul Qadir menasihati kita: “Jagalah dirimu.”

    • Jaga pandanganmu dari yang diharamkan.
    • Jaga lisanmu dari kebohongan dan ghibah.
    • Jaga hatimu dari hasad, riya, dan sombong.

    Kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan orang lain — melainkan mengalahkan nafsumu sendiri.

    Menjauhi Orang-orang yang Melanggar

    Lingkungan adalah cermin masa depanmu.
    Siapa yang kau dekati, itulah ke mana kau akan berjalan.

    Syeikh Abdul Qadir al-Jailani mengingatkan, jangan hanya kuat menjaga diri, tetapi juga bijak memilih teman. Berada di tengah mereka yang meremehkan syariat hanya akan melemahkan iman, mengaburkan prinsip, dan menumpulkan nurani.

    Berani berkata tidak. Berani menjauh. Demi menjaga hati tetap hidup.

    Sebuah Ajakan untuk Kita Semua

    Kini, saat dunia menawarkan berjuta distraksi, mari kita genggam erat petunjuk ini.
    Mari kita buktikan cinta kepada Allah bukan hanya dalam kata, tetapi dalam pilihan hidup sehari-hari.

    Bersyariat itu keren. Taat itu kuat. Konsisten itu elegan.

    Jadikan syariat sebagai pakaian kehormatanmu,
    sebagai mahkota di kepalamu,
    dan sebagai jalan yang mengantarmu pulang —
    kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

    Jalan paling dekat menuju Allah adalah menetapi kewajiban sebagai hamba, memegang teguh ajaran syariat Islam dan istiqamah dalam ketakwaan.

    Jalan Paling Dekat Menuju Allah

    Dalam dunia yang penuh hiruk-pikuk ambisi dan godaan, banyak orang bertanya:
    “Bagaimana jalan tercepat menuju Allah?”

    Jawaban para salihin, jawaban para wali Allah, selalu sederhana namun dalam:

    “Jalan paling dekat menuju Allah adalah menetapi kewajiban sebagai hamba, memegang teguh ajaran syariat Islam, dan istiqamah dalam ketakwaan.”

    Inilah rahasianya:
    Bukan dengan jalan pintas, bukan dengan amalan yang menghebohkan, tapi dengan konsistensi sederhana dalam ketaatan.

     

    Menetapi Kewajiban sebagai Hamba

    Tugas utama kita di dunia ini bukanlah menjadi terkenal, kaya, atau berkuasa — melainkan menjadi hamba yang taat.
    Kita diciptakan bukan untuk dunia, tapi untuk mengabdi kepada-Nya.

    • Menegakkan shalat tepat waktu
    • Menunaikan zakat
    • Berpuasa dengan penuh keikhlasan
    • Menjaga amanah dan kejujuran
    • Berbakti kepada orang tua

    Inilah langkah-langkah kecil yang membangun kedekatan dengan Allah.
    Kewajiban itu berat, karena surga itu tinggi. Namun siapa yang menetapinya, akan dimuliakan Allah di dunia dan di akhirat.

     

    Memegang Teguh Ajaran Syariat Islam

    Syariat adalah peta jalan menuju surga.
    Tanpa syariat, perjalanan menuju Allah akan tersesat di jalan-jalan gelap penuh tipu daya.

    • Syariat menjaga akidah kita tetap bersih
    • Syariat menjaga akhlak kita tetap mulia
    • Syariat menjaga amal kita tetap lurus

    Memegang syariat berarti memeluk cahaya.
    Dan siapa yang berjalan dalam cahaya, ia akan sampai kepada Sang Cahaya — Allah Azza wa Jalla.

     

    Istiqamah dalam Ketakwaan

    Kunci terakhir — dan yang paling berat — adalah istiqamah.
    Berjalan lurus itu mudah di awal, tapi sulit dijaga hingga akhir.

    Istiqamah berarti sabar dalam taat, sabar meninggalkan maksiat, dan sabar menghadapi ujian.
    Setiap hari mungkin terasa biasa. Tapi justru dalam keseharian itulah Allah menilai siapa yang sungguh-sungguh mencintai-Nya.

    Rasulullah ï·º bersabda:

    “Katakanlah, aku beriman kepada Allah, lalu beristiqamahlah!”
    (HR. Muslim)

     

    Penutup: Jalan Terdekat Itu Sudah di Depan Kita

    Banyak orang mengira jalan menuju Allah itu jauh.
    Padahal sesungguhnya, jalan itu sudah ada di hadapan kita: menetapi kewajiban, memegang syariat, dan istiqamah dalam takwa.

    Jangan mencari jalan lain. Jangan menunggu nanti.
    Setiap sujudmu, setiap istighfarmu, setiap air mata tobatmu — adalah langkah-langkah kecil yang mendekatkanmu kepada-Nya.

    Hari ini. Sekarang. Mulailah.

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top